Mulai 1 Oktober 2026, ada satu angka yang hilang dari meja kasir di seluruh Indonesia: 0,7 persen. Bank Indonesia memperluas kebijakan Merchant Discount Rate (MDR) QRIS sebesar 0 persen, bukan lagi hanya untuk pedagang mikro, tetapi juga untuk merchant kecil, menengah, dan besar pada transaksi sampai dengan Rp100.000.
Banyak keluarga membaca berita ini sekilas lalu menyimpulkan: "Itu urusan pedagang, bukan urusan saya." Padahal keputusan ini menyentuh tiga hal yang sangat dekat dengan dompet rumah tangga. Pertama, biaya usaha yang turun bisa berpengaruh pada harga jual dan margin usaha rumahan milik keluarga. Kedua, praktik penarikan biaya tambahan ke pembeli yang sering terjadi di lapangan justru bertentangan dengan ketentuan BI. Ketiga, transaksi digital yang makin murah membuat belanja non-tunai makin mudah — dan pengeluaran yang makin mudah biasanya makin sulit dikendalikan.
Artikel ini membahas kebijakan tersebut secara praktis: apa yang benar-benar berubah, apa yang realistis diharapkan keluarga, berapa penghematan nyata bagi yang punya usaha rumahan, dan bagaimana memasukkan semua belanja QRIS ke dalam anggaran bulanan supaya tidak bocor tanpa disadari.
1. Apa Itu MDR QRIS dan Apa yang Berubah pada 1 Oktober 2026
Sebelum menghitung dampaknya, penting memahami dulu istilahnya. Banyak salah paham soal ini, dan salah paham itu yang sering membuat keluarga merasa "ditarik biaya" saat membayar.
1.1 MDR adalah biaya pedagang, bukan biaya pembeli
MDR atau Merchant Discount Rate adalah potongan biaya transaksi yang dikenakan kepada pemilik usaha (merchant) atas setiap pembayaran QRIS yang diterima, bukan biaya yang dibebankan kepada pembeli. Potongan ini menjadi bagian dari pendapatan penyelenggara jasa pembayaran — bank, penerbit e-wallet, hingga penyedia layanan pembayaran.
Konsekuensinya sederhana: ketika Anda sebagai pembeli diminta menambah "biaya QRIS" di atas harga barang, itu bukan ketentuan resmi QRIS. Bank Indonesia menegaskan MDR adalah kewajiban merchant. Artinya, Anda berhak bertanya dan menolak biaya tambahan yang tidak wajar, atau melaporkannya ke penyedia QRIS yang dipakai pedagang tersebut.
1.2 Ketentuan baru: 0% sampai Rp100 ribu untuk semua kategori merchant
Berikut ringkasan yang berlaku efektif 1 Oktober 2026 berdasarkan pengumuman Bank Indonesia:
Merchant Usaha Mikro (UMI): MDR 0 persen untuk transaksi sampai dengan Rp500.000, kebijakan ini dilanjutkan seperti sebelumnya.
Merchant Usaha Kecil (UKE), Usaha Menengah (UME), dan Usaha Besar (UBE): MDR 0 persen untuk transaksi sampai dengan Rp100.000, turun dari sebelumnya 0,7 persen.
Transaksi di atas Rp100.000 pada UKE, UME, dan UBE: MDR tetap 0,7 persen, tidak ada kenaikan dari ketentuan sebelumnya.
Jadi yang berubah bukan tarif untuk transaksi besar, melainkan pembebasan biaya untuk transaksi kecil di toko-toko yang sebelumnya dikenakan 0,7 persen. Kafe, toko kelontong modern, apotek, laundry, bengkel, dan toko bahan bangunan termasuk yang merasakan langsung perubahan ini.
1.3 Kenapa kebijakan ini relevan untuk hampir semua keluarga
Skala QRIS di Indonesia sudah sedemikian besar sehingga kebijakan ini tidak lagi bisa disebut isu teknis perbankan. Per Juni 2026, pengguna QRIS mencapai 65,77 juta orang, dengan 6,23 juta di antaranya adalah pengguna baru sepanjang Januari–Juni 2026. QRIS juga telah menjangkau 44,86 juta merchant, dan 96,68 persen di antaranya adalah UMKM.
Besarnya transaksi pun mencerminkan perubahan kebiasaan belanja keluarga. Sepanjang semester I-2026, QRIS mencatat 12,55 miliar transaksi dengan nilai Rp1,12 kuadriliun, tumbuh 93,92 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Jika angka itu dibalik, artinya rata-rata keluarga Indonesia kini membayar kebutuhan harian — belanja pasar, jajan anak, isi bensin, sampai bayar iuran sekolah — lewat pemindaian kode.
2. Dampak Nyata ke Anggaran Keluarga
Setelah memahami aturannya, pertanyaan berikutnya: apa bedanya untuk uang keluarga Anda bulan depan? Ada tiga dampak yang paling realistis.
2.1 Harga tidak otomatis turun, tetapi ruang negosiasi bertambah
Yang perlu diluruskan sejak awal: MDR 0 persen tidak otomatis membuat harga barang di toko turun. Biaya transaksi hanyalah satu komponen kecil dari struktur biaya usaha. Namun biaya yang turun memberi ruang bagi pemilik usaha untuk menahan kenaikan harga, memberi harga lebih kompetitif, atau menambah nilai layanan — misalnya gratis ongkir untuk pembelian kecil.
Bagi keluarga sebagai pembeli, manfaat paling langsung bukan diskon, melainkan berkurangnya alasan pedagang menaikkan harga dengan dalih "biaya QRIS naik". Jika sebelumnya ada pedagang yang memakai alasan itu, mulai 1 Oktober 2026 alasannya semakin tidak berdasar untuk transaksi sampai Rp100.000 — sebelum 1 Oktober pun, biaya transaksi bukan beban pembeli.
2.2 Uang yang keluar jadi makin "tidak terasa" — inilah risikonya
Ini sisi yang paling sering luput dibahas. Ketika biaya transaksi nol dan prosesnya hanya memindai kode selama dua detik, hambatan psikologis untuk berbelanja menurun. Uang tidak lagi terlihat berkurang dari dompet; yang berkurang hanya angka di aplikasi. Dalam literatur keuangan perilaku, fenomena ini dikenal sebagai pain of paying yang menurun — dan hasilnya adalah pengeluaran impulsif yang naik pelan-pelan tanpa terasa.
Untuk keluarga dengan anggaran terbatas, ini justru risiko utama kebijakan pembayaran murah. Solusinya bukan berhenti memakai QRIS, karena QRIS jauh lebih aman dibanding membawa uang tunai dalam jumlah besar, tetapi menambahkan lapisan pencatatan. Di sinilah aplikasi pencatat keuangan seperti Budgetin membantu: setiap pengeluaran kecil dicatat pada pos yang tepat, sehingga pola belanja harian terlihat sebagai angka, bukan sekadar perasaan "bulan ini kok cepat habis".
2.3 Kalau keluarga punya usaha rumahan, penghematannya bisa puluhan hingga ratusan ribu
Dampak terbesar justru dirasakan keluarga yang menjalankan usaha. Ambil contoh toko kelontong atau laundry rumahan yang masuk kategori usaha kecil, dengan rata-rata 40 transaksi QRIS per hari senilai Rp60.000 per transaksi:
Nilai transaksi harian: 40 × Rp60.000 = Rp2.400.000.
Nilai transaksi bulanan (30 hari): Rp72.000.000.
Biaya MDR lama 0,7 persen: sekitar Rp504.000 per bulan.
Biaya MDR mulai 1 Oktober 2026: Rp0 untuk transaksi sampai Rp100.000.
Dengan kata lain, pemilik usaha bisa menghemat sekitar Rp500.000 setiap bulan, atau sekitar Rp6 juta per tahun, hanya dari satu perubahan kebijakan. Uang sebesar itu bisa dialihkan ke kas usaha untuk menambah stok, atau ke pos tabungan keluarga.
Bandingkan dengan usaha yang melayani transaksi besar di atas Rp100.000, misalnya 10 transaksi per hari senilai Rp250.000. Untuk transaksi seperti itu MDR tetap 0,7 persen, sekitar Rp17.500 per hari atau Rp525.000 per bulan. Jadi penghematan terbesar memang datang dari transaksi ritel kecil yang jumlahnya paling banyak di usaha keluarga.
3. Tips Praktis Memasukkan Belanja QRIS ke Anggaran Keluarga
Bagian ini bisa langsung Anda praktikkan bulan ini, sekaligus memanfaatkan momentum kebijakan 1 Oktober 2026.
Pisahkan kanal pembayaran utama. Tentukan satu e-wallet atau rekening untuk belanja harian, dan satu rekening lain khusus untuk tabungan serta dana darurat. Semakin banyak kanal, semakin sulit merekonsiliasi pengeluaran di akhir bulan.
Tetapkan pagu belanja harian. Karena transaksi kecil kini bebas biaya, tetapkan batas belanja harian (misalnya Rp150.000) dan pecah ke pos yang jelas: makan, transportasi, kebutuhan anak.
Catat pengeluaran di hari yang sama. Catat transaksi saat itu juga, bukan saat akhir bulan. Aplikasi keuangan seperti Budgetin dirancang untuk ini: pencatatan cepat, ringkasan per kategori, dan alokasi anggaran yang bisa langsung dibandingkan dengan realisasi.
Cek mutasi setiap pekan, bukan setiap bulan. Lima menit setiap akhir pekan cukup untuk menemukan langganan digital yang tidak terpakai atau pembelian impulsif yang berulang.
Simpan bukti transaksi usaha secara rapi. Jika keluarga punya usaha, pemisahan rekening pribadi dan rekening usaha akan memudahkan penghitungan laba, sekaligus menghindari kekacauan saat dilaporkan sebagai penghasilan usaha.
Konfirmasi kategori merchant QRIS Anda. Pemilik usaha perlu memastikan penyedia QRIS mencatat kategori usahanya dengan benar, karena kategori inilah yang menentukan apakah MDR 0 persen berlaku sampai Rp100.000 atau Rp500.000.
4. Tiga Kesalahan yang Perlu Dihindari
Menganggap harga pasti turun. Jangan menunda pembelian penting hanya karena menunggu "harga turun akibat MDR 0 persen". Kebijakan ini menurunkan biaya pedagang, bukan menetapkan harga jual.
Membayar biaya tambahan tanpa bertanya. Jika diminta biaya ekstra untuk QRIS, tanyakan dasar aturannya. MDR adalah kewajiban merchant, dan praktik menarik biaya ke pembeli tidak sesuai ketentuan.
Menganggap kecil berarti tidak perlu dicatat. Justru transaksi Rp15.000–Rp50.000 yang paling sering tidak dicatat. Dalam sebulan, 60 transaksi kecil senilai Rp25.000 sudah setara Rp1,5 juta — sebesar cicilan atau uang belanja pekanan keluarga.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apakah saya sebagai pembeli akan mendapat potongan harga karena MDR QRIS 0%?
A: Tidak otomatis. MDR adalah biaya yang dibebankan kepada merchant, bukan kepada pembeli, sehingga keputusan menurunkan harga tetap ada di tangan pemilik usaha. MDR 0 persen memberi ruang bagi pedagang untuk menjaga harga, dan sebagian usaha mungkin meneruskannya dalam bentuk harga lebih kompetitif atau bonus kecil.
Q: Apakah benar toko boleh menambahkan biaya QRIS ke pembeli?
A: Sesuai ketentuan Bank Indonesia, MDR merupakan kewajiban merchant. Karena itu, permintaan biaya tambahan kepada pembeli untuk pembayaran QRIS tidak sejalan dengan aturan tersebut. Jika hal ini terjadi, Anda dapat menanyakan dasar biayanya dan melaporkannya ke penyedia QRIS atau penyelenggara jasa pembayaran yang digunakan pedagang.
Q: Apakah transaksi di atas Rp100.000 menjadi lebih mahal setelah 1 Oktober 2026?
A: Tidak. Untuk merchant usaha kecil, menengah, dan besar, transaksi di atas Rp100.000 tetap dikenakan MDR 0,7 persen, sama seperti ketentuan sebelumnya. Yang baru adalah pembebasan MDR untuk transaksi sampai Rp100.000, bukan kenaikan biaya untuk transaksi besar.
Q: Saya punya usaha rumahan dan belum punya QRIS, apakah perlu membayar untuk mendaftar?
A: Pendaftaran merchant QRIS umumnya tidak dipungut biaya melalui bank atau penyedia jasa pembayaran resmi. Yang perlu Anda siapkan adalah identitas pemilik usaha, data usaha, dan rekening atas nama pemilik atau badan usaha. Hindari perantara yang meminta biaya pendaftaran besar tanpa kejelasan.
Q: Apakah saya perlu menghubungi penyedia QRIS untuk mendapat MDR 0 persen?
A: Untuk merchant usaha mikro, ketentuan MDR 0 persen sudah berlaku sebelumnya. Bagi kategori usaha kecil, menengah, dan besar, kebijakan baru ini ditetapkan oleh Bank Indonesia dan berlaku pada transaksi yang memenuhi batas nominal, sehingga tidak memerlukan pendaftaran program khusus. Yang tetap penting adalah memastikan kategori usaha Anda tercatat benar di penyedia QRIS.
Kesimpulan
Kebijakan MDR QRIS 0 persen yang berlaku 1 Oktober 2026 memang terlihat seperti kabar untuk pedagang, tetapi efeknya sampai ke dapur rumah tangga: usaha keluarga bisa menghemat ratusan ribu rupiah per bulan, sementara belanja harian keluarga menjadi lebih murah, lebih cepat, dan lebih sulit dikendalikan jika tidak dicatat. Sikap paling aman adalah tetap disiplin mencatat, memisahkan rekening, dan tidak terjebak memakai "gratis biaya" sebagai alasan untuk membelanjakan lebih banyak.
Jadi, alih-alih hanya menunggu harga turun, gunakan momentum ini untuk membenahi kebiasaan belanja digital keluarga — dan kelola keuanganmu dengan mudah bersama Budgetin di budgetin.web.id, catat, pantau, dan kendalikan anggaran keluargamu setiap hari.