Hari ini, Senin 28 September 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghapus batas harga terendah saham Rp50. Sejak hari ini, harga saham di Pasar Reguler, Pasar Tunai, dan Pasar Negosiasi boleh turun sampai Rp1 per lembar. Artinya, satu lot saham termurah yang tadinya butuh Rp5.000 kini cukup ditebus dengan Rp100. Bagi keluarga yang baru mulai belajar investasi, angka Rp100 terdengar seperti pintu masuk yang sangat ramah.
Tapi di sinilah penting untuk berhati-hati. Harga nominal yang kecil tidak otomatis berarti saham itu murah, apalagi aman. Bersamaan dengan aturan baru ini, BEI juga merombak ketentuan Papan Pemantauan Khusus (PPK), sehingga 92 emiten keluar dari mekanisme perdagangan khusus dan kembali ke pasar reguler. Sebagian dari emiten itu masih punya persoalan fundamental serius.
Artikel ini membahas apa saja yang berubah hari ini, apa risikonya bagi keuangan keluarga, dan bagaimana menyiapkan pos investasi yang tertib di dalam anggaran rumah tangga.
Apa yang Berubah Mulai 28 September 2026
Aturan baru ini tertuang dalam dua Surat Keputusan Direksi BEI, yaitu Kep-00136/BEI/09-2026 tentang perubahan Peraturan Nomor II-A soal perdagangan efek bersifat ekuitas, dan Kep-00137/BEI/09-2026 tentang perubahan Peraturan Nomor II-O untuk unit Dana Investasi Infrastruktur atau DINFRA. Keduanya ditetapkan pada 21 September 2026 dan mulai berlaku hari ini.
Poin-poin perubahannya:
Batas harga terendah turun dari Rp50 menjadi Rp1 per saham, berlaku di Pasar Reguler, Pasar Tunai, dan Pasar Negosiasi.
Modal minimum satu lot ikut turun. Satu lot sama dengan 100 saham. Dengan harga terendah Rp1, nilai satu lot berkisar mulai Rp100, dibanding Rp5.000 sebelumnya.
Fraksi harga di bawah Rp200 ditetapkan Rp1. Karena itu, saham di rentang Rp1 sampai Rp10 hanya punya sepuluh titik harga yang mungkin, yaitu Rp1, Rp2, Rp3, dan seterusnya sampai Rp10.
Batas auto rejection untuk rentang Rp1 sampai Rp10 dinyatakan dalam rupiah, bukan persen. Harga boleh naik Rp1 dan turun Rp1 dari harga acuan hari itu. Untuk saham Rp3, artinya harga hari itu hanya bisa bergerak antara Rp2 dan Rp4.
Batas auto rejection bawah (ARB) tetap asimetris 15 persen untuk saham di atas Rp10 sampai 31 Desember 2026. Sementara batas atasnya (ARA) 35 persen untuk harga Rp11 sampai Rp200, 25 persen untuk Rp200 sampai Rp5.000, dan 20 persen di atas Rp5.000. Mulai 1 Januari 2027, ARB akan disamakan dengan ARA.
Biaya transaksi tidak berubah, yaitu 0,018 persen dari nilai transaksi di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, belum termasuk komisi sekuritas yang besarnya berbeda di tiap perusahaan efek.
Batas auto rejection volume juga tetap, yaitu order ditolak otomatis bila melebihi 50.000 lot atau 5 persen dari jumlah saham tercatat, mana yang lebih kecil.
Tujuan BEI jelas: memperluas rentang perdagangan, memperbaiki proses pembentukan harga, dan memberi keleluasaan bagi pelaku pasar mengelola portofolio. Namun konsekuensi praktisnya yang perlu dicermati keluarga adalah ini — saham yang selama bertahun-tahun hanya bisa turun sampai Rp50, kini masih memiliki ruang penurunan sampai Rp1.
92 Emiten Keluar dari Papan Pemantauan Khusus
Seiring aturan baru, BEI juga merevisi Peraturan I-X tentang Papan Pemantauan Khusus dan mencabut empat kriteria yang selama ini membuat saham masuk mekanisme full call auction, yaitu lelang berkala yang membuat transaksi jauh lebih sepi dibanding pasar reguler.
Kriteria yang dihapus:
Kriteria 1 — harga rata-rata saham di bawah Rp51 disertai likuiditas rendah.
Kriteria 6 — belum memenuhi ketentuan jumlah saham beredar di publik atau free float.
Kriteria 7 — likuiditas rendah selama tiga bulan terakhir.
Kriteria 10 — terkena suspensi perdagangan lebih dari satu hari bursa akibat aktivitas perdagangan.
Akibatnya, berdasarkan pengumuman BEI No. Peng-CK-00076/BEI.PLP/09-2026 tertanggal 25 September 2026, sebanyak 92 emiten tercatat dicabut status pemantauan khususnya dan dikembalikan ke papan pencatatan semula, baik Papan Utama, Papan Pengembangan, maupun Papan Akselerasi. Saham-saham tersebut kini diperdagangkan dengan mekanisme reguler, sehingga frekuensi dan volume transaksinya berpotensi meningkat.
Yang perlu dipahami keluarga: keluar dari papan pemantauan bukan sertifikat sehat. Kriteria yang dihapus memang sebagian bersifat teknis, seperti harga dan likuiditas, bukan soal kualitas kinerja perusahaan. Buktinya, pada hari yang sama, salah satu emiten yang masuk daftar tersebut, Waskita Karya (WSKT), justru mengalami penurunan peringkat obligasi menjadi idCCC oleh Pefindo setelah gagal bayar obligasi. Jadi bisa saja sebuah saham kembali diperdagangkan secara normal di pasar reguler, tetapi laporan keuangannya masih bermasalah.
Kenapa Harga Rp1 Tidak Berarti Saham Murah
Kesalahan paling umum investor pemula adalah menilai murah atau mahalnya saham dari angka harganya. Padahal harga per lembar hanya hasil bagi antara nilai perusahaan dan jumlah saham beredar. Perusahaan bisa saja memecah sahamnya berkali-kali sehingga harga per lembar terlihat kecil, meski nilai perusahaannya mahal.
Ukuran yang lebih masuk akal untuk dibaca keluarga:
Kapitalisasi pasar, yaitu harga saham dikali jumlah saham beredar. Ini menunjukkan besar nilai perusahaan yang sebenarnya.
Rasio harga terhadap laba (PER). Bandingkan dengan rata-rata industri sejenis. PER tinggi bisa berarti pasar mengharapkan pertumbuhan, tetapi bisa juga berarti harga sudah terlalu mahal.
Rasio harga terhadap nilai buku (PBV). Nilai buku yang negatif adalah tanda bahaya, karena berarti liabilitas perusahaan melebihi asetnya.
Pendapatan dan laba operasional. Perusahaan yang pendapatannya tidak bertumbuh dari tahun ke tahun tetap berisiko, sekalipun harganya Rp1.
Opini audit atas laporan keuangan. Opini disclaimer atau tidak menyatakan pendapat adalah lampu merah yang serius.
Notasi khusus dari bursa. Bila aplikasi sekuritas menampilkan notasi seperti L untuk likuiditas rendah atau indikator lain, itu tanda saham sulit diperdagangkan.
Saham dengan harga Rp1 juga punya persoalan likuiditas. Karena harga tidak bisa turun lagi di bawah Rp1, saham seperti itu bisa bertahan di angka Rp1 dalam waktu lama tanpa ada yang mau membeli. Di situ, dana keluarga Anda secara praktis terkunci: nilai di layar masih ada, tetapi tidak bisa dicairkan. Ini risiko yang jauh lebih menyakitkan daripada volatilitas harga biasa, karena terjadi tepat saat Anda butuh uangnya.
Risiko Nyata yang Harus Dipahami Keluarga
Sebelum tergoda membeli saham bernominal kecil, pertimbangkan lima risiko berikut.
Ruang penurunan sangat lebar. Saham di atas Rp10 bisa turun sampai 15 persen dalam sehari sampai akhir 2026, dan mulai 2027 batas penurunan itu akan menyamai batas kenaikan. Untuk saham Rp1 sampai Rp10 yang hanya bergerak Rp1 per hari, penurunan 33 persen dalam sehari sangat mungkin terjadi pada saham berharga Rp3.
Risiko terkunci di Rp1. Ketika harga menyentuh lantai Rp1 dan tidak ada permintaan, Anda tidak punya pilihan lain selain menahan saham tersebut tanpa kepastian kapan bisa dijual.
Biaya transaksi jadi relatif besar. Komisi sekuritas punya batas minimum per transaksi. Untuk pembelian bernilai Rp100.000, biaya minimum itu bisa memakan porsi persentase yang jauh lebih besar dibanding transaksi bernilai puluhan juta. Kebiasaan beli-jual cepat dengan nominal kecil justru menggerus dana.
Risiko delisting dan suspensi. Emiten yang tidak lagi memenuhi persyaratan pencatatan dapat dikenai suspensi, masuk kembali ke papan pemantauan, atau dinyatakan delisting. Dalam kondisi ekstrem, saham bisa hangus nilainya.
Godaan informasi sesat. Munculnya aturan baru biasanya dibarengi ramainya ajakan di grup pesan instan dan media sosial untuk "ikut menampung" saham murah. Jangan jadikan sinyal dari grup seperti itu sebagai dasar keputusan atas uang keluarga.
Cara Menata Pos Investasi dalam Anggaran Keluarga
Aturan baru ini sebaiknya tidak direspons dengan menambah porsi saham spekulatif, melainkan dengan menata ulang anggaran dan batas risiko. Urutan langkahnya bisa seperti berikut.
Pastikan fondasi aman lebih dulu. Dana darurat 3 sampai 6 kali pengeluaran bulanan, tidak punya tunggakan paylater atau kartu kredit berbunga, serta cicilan utang total tidak melebihi 30 persen penghasilan.
Tetapkan pos investasi yang eksplisit di anggaran bulanan, misalnya 10 sampai 20 persen dari penghasilan, terpisah dari pos tabungan pendidikan dan dana darurat. Ketika dana ini dicatat sebagai pos tersendiri, Anda tahu persis batas maksimal yang boleh dipakai, sehingga tidak tergoda menyedot uang belanja dapur. Aplikasi pencatat keuangan seperti Budgetin memudahkan pemisahan pos semacam ini, karena setiap alokasi terlihat nyata sebagai angka, bukan sekadar niat.
Pisahkan porsi inti dan porsi coba-coba. Porsi inti diisi instrumen yang lebih terukur, misalnya reksa dana indeks, surat berharga negara ritel, emas, atau saham berkapitalisasi besar. Porsi coba-coba untuk saham berisiko tinggi sebaiknya dibatasi, misalnya maksimal 5 persen dari total nilai investasi keluarga.
Gunakan uang dingin. Uang yang dipakai membeli saham berisiko adalah uang yang tidak akan Anda butuhkan dalam tiga tahun ke depan. Uang SPP anak bulan depan bukan uang dingin.
Tuliskan alasan pembelian sebelum klik beli. Catat harga beli, alasan, target, dan batas kerugian yang Anda terima. Disiplin ini mencegah keputusan impulsif saat harga bergerak liar.
Evaluasi bulanan, bukan harian. Cukup sekali sebulan saat rapikan anggaran: berapa setoran, berapa nilai portofolio, apakah alokasi masih sesuai rencana. Aplikasi keuangan seperti Budgetin bisa membantu melihat realisasi setoran investasi dibanding rencana, sehingga keluarga tahu apakah masih konsisten atau mulai kebablasan.
Utamakan belajar sebelum menambah nominal. Manfaatkan masa awal bertransaksi dengan nominal kecil untuk memahami order book, fraksi harga, dan batas auto rejection yang baru, sebelum menambah porsi secara signifikan.
Tips Praktis untuk Keluarga Minggu Ini
Periksa harga dan notasi khusus semua saham di portofolio Anda hari ini, karena papan perdagangan 92 emiten berubah efektif Senin ini.
Kalau ada saham yang sebelumnya terjebak di harga Rp50, ketahui bahwa harga terendahnya kini Rp1, sehingga perencanaan batas kerugian harus dihitung ulang.
Hitung ulang biaya transaksi saat bertransaksi dengan nominal kecil. Bandingkan nilai order dengan batas minimum fee sekuritas Anda.
Jangan pernah memakai dana darurat, dana pendidikan anak, atau uang cicilan untuk membeli saham berisiko.
Batasi jumlah emiten berisiko dalam portofolio keluarga. Lebih baik satu pos kecil yang dipahami daripada belasan emiten yang hanya ikut ramai.
Manfaatkan fitur pemantauan harga di aplikasi sekuritas agar tidak perlu memantau layar sepanjang jam bursa.
Jadwalkan sesi keuangan keluarga tiap akhir bulan untuk mencatat setoran investasi, memeriksa anggaran, dan memutuskan target bulan berikutnya.
Catat setiap transaksi jual-beli beserta biaya di aplikasi keuangan seperti Budgetin supaya total biaya transaksi dan realisasi keuntungan dapat dihitung jujur, bukan berdasarkan perasaan.
FAQ Seputar Aturan Saham Rp1
Q: Apakah mulai hari ini saya bisa membeli saham dengan modal Rp100?
Secara aturan, satu lot saham berharga Rp1 bernilai Rp100. Namun ada dua catatan penting. Pertama, komisi sekuritas umumnya punya batas minimum per transaksi yang bisa lebih besar dari nilai ordernya. Kedua, tidak semua sekuritas menampilkan harga di bawah Rp50 pada sistem order hari ini. Periksa dulu ketentuan di aplikasi sekuritas Anda.
Q: Apa bedanya saham yang keluar dari papan pemantauan khusus dengan saham biasa?
Saham di papan pemantauan khusus diperdagangkan dengan mekanisme lelang berkala atau full call auction, sehingga transaksinya lebih jarang dan rentang harganya berbeda. Setelah keluar dari daftar tersebut, saham kembali mengikuti mekanisme pasar reguler dengan frekuensi transaksi yang lebih tinggi. Perlu diingat, perubahan mekanisme ini tidak memperbaiki kinerja perusahaan secara otomatis.
Q: Kalau harga saham sudah Rp1, apakah risikonya hilang karena tidak bisa turun lagi?
Justru sebaliknya. Risiko utama bukan penurunan harga, melainkan ketidakmampuan menjual. Saham yang mandek di Rp1 bisa tetap di sana berbulan-bulan tanpa pembeli, sehingga dana Anda praktis terkunci. Selain itu, risiko suspensi dan delisting tetap ada.
Q: Apakah aturan baru ini mengubah batas keuntungan harian saham?
Ya, untuk saham berharga Rp1 sampai Rp10, batas kenaikan dan penurunan harian dinyatakan dalam rupiah, yaitu Rp1 ke atas dan Rp1 ke bawah dari harga acuan. Untuk saham di atas Rp10, batas kenaikan tetap 35 persen untuk rentang Rp11 sampai Rp200, 25 persen untuk Rp200 sampai Rp5.000, dan 20 persen di atas Rp5.000, sedangkan batas penurunannya tetap 15 persen sampai akhir 2026.
Q: Bagaimana cara keluarga memulai investasi saham dengan risiko terkendali?
Selesaikan dulu fondasi keuangan, yaitu dana darurat, bebas utang konsumtif, dan anggaran bulanan yang sehat. Setelah itu, alokasikan pos investasi terpisah dengan porsi inti pada instrumen yang lebih terukur, lalu batasi porsi saham berisiko kecil saja. Selalu gunakan uang dingin dan catat setiap transaksi agar evaluasi dilakukan atas dasar angka, bukan perasaan.
Kesimpulan
Aturan saham Rp1 dan pelonggaran papan pemantauan khusus yang berlaku hari ini membuka akses pasar saham lebih lebar bagi keluarga Indonesia. Kabar baiknya, modal masuk jadi jauh lebih ringan. Kabar yang perlu diwaspadai, ruang penurunan harga juga jadi lebih dalam, dan sejumlah emiten yang kembali ke pasar reguler belum tentu sehat secara fundamental. Sikap paling bijak bukan mengejar saham bernominal kecil, melainkan memastikan fondasi keuangan keluarga sudah rapi, menetapkan batas porsi risiko, dan mencatat setiap setoran serta transaksi investasi dengan tertib. Dengan begitu, aturan baru ini menjadi kesempatan belajar yang aman, bukan sumber masalah baru bagi anggaran rumah tangga.
Kelola keuanganmu dengan mudah bersama Budgetin di budgetin.web.id — catat, pantau, dan kendalikan anggaran keluargamu setiap hari.